Cerpen : “TAKDIR UNTUK SEMESTA”

“TAKDIR UNTUK SEMESTA”-oleh: Anggita Firdatul Khasanah

Masker berwarna hitam sudah ku kaitkan pada kedua daun telingaku, tas rajut berwarna coklat sudah menggantung rapi di pundak kiri ku. Ku coba melangkahkan kaki ku keluar rumah, sejenak untuk mengobati rasa jenuhku sambil membeli beberapa kebutuhan . Sepi dan sunyi, itulah keadaan jalan disekitar rumahku. Langkahku sejenak terhenti ketika melihat sebuah pos jaga yang kokoh tak berpenghuni. Aku tak tau sejak kapan air mataku mulai lolos dari kelopak mataku. Aku merindukan semuanya, aku rindu bercanda ria bersama teman-teman ku, aku rindu bekerja disebuah gerai bersama rekan-rekan ku, dan aku merindukan ibu yang selalu mencium keningku setiap malam disaat mataku terpejam.

Namun sekarang, aku tak bisa memeluk tubuhnya, aku tak bisa bercengkrama lama dengannya, yang bisa kulakukan hanyalah berdoa kepada sang maha kuasa supaya memberikan yang terbaik untuknya. Tanganku mulai terulur untuk menyeka sisa air mataku. Tak ada gunanya mengeluh, mengeluh hanyalah membuatku merasa terjun kejurang kegelapan yang hanya menyisakan setitik cahaya, dan itu akan mengundang kata menyerah dalam hidupku. Aku mencoba terus berjalan untuk pergi ke sebuah toko yang keadaannya masih buka.

Langkahku sudah mulai dekat, ketika hendak masuk, mataku menangkap seorang pria dengan tubuh tinggi berisi, dengan kaos biru berlengan pendek, celana hitam selutut, dan kaca mata coklat terpasang rapi di depan matanya, dia melambaikan tangannya ke arahku. Aku tersenyum hangat, “Shakira!” teriaknya yang pelan karena terhalang sebuah masker sambil melambaikan tangannya kepadaku. Dia mulai berjalan mendekat ke arahku, namun kakinya tiba-tiba terhenti. Aku yang mulai paham dengan maksudnya pun hanya mengangguk, “Kita harus tetap menjaga jarak bukan?” tanyanya karena merasa tidak enak denganku. “Iya Farel. Sudah lama ya kita tidak bertemu,” ujarku dengan sedikit terkekeh, “Benar, aku sangat merindukan bekerja di gerai,” ujarnya dengan tatapan sendu. “Sudahlah, mari kita ambil hikmahnya saja,” jawabku dengan penuh arti. “Kalo begitu, aku pergi dulu ya, Mama pasti sudah menungguku pulang.” ujarnya yang kemudian berpamitan kepadaku.

Setelah dia berputar arah, aku mulai masuk kedalam toko tersebut untuk membeli kebutuhan rumah. “Assalamu’alaikum,” ujarku yang setengah berteriak. Pemilik toko pun berdiri dan hendak melayaniku. Sang pemilik toko tersenyum hangat kepadaku, aku terkejut. Untuk pertama kalinya aku dilayani oleh sang pemilik toko itu sendiri. Ini adalah tahun yang mengerikan untuk para lansia bukan? Namun orang di depanku malah memilih untuk melayani pembeli tanpa pegawai. “Maaf Kek, Kakek tidak mau istirahat saja?” ujarku dengan hati-hati. Namun diluar dugaanku, Kakek itu malah tersenyum manis dan menggeleng pelan.

“Pandemi ini berbahaya Kek, untuk usia Kakek yang tergolong sudah lansia,” cercaku. “Gini nak, di masa-masa seperti ini, Kakek tidak bisa terus mempekerjakan pegawai. Masa-masa seperti ini sangat sulit untuk kami yang hanya memiliki penghasilan dari toko seperti yang dimiliki Kakek saat ini, ada banyak sekali kebutuhan yang harus Kakek penuhi, yang yang Kakek bisa lakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan untuk jalan takdir yang terbaik dan terus melakukan apa yang bisa Kakek lakukan untuk perjalanan hidup Kakek.” kepalaku mulai mencerna setiap kata demi kata yang terucap dari mulut Kakek di depanku. Aku terpaku ketika menyadari maksud sang kakek, kepala ku sedikit mendongak, mata ku berusaha membalas tatapan teduh sang Kakek, hati ku sedikit tersentak, seketika batin ku mengucap kata syukur karena ternyata Tuhan masih memberikan jalan takdir yang terbaik untuk ku. Sudut bibir ku tertarik keatas, aku tersenyum manis untuk Kakek, “Kakek jaga kesehatan ya, dan jangan lupa waspada,” ujarku sambil tersenyum.

Kakek di depanku hanya tersenyum dan mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi, ku katakan barang apa saja yang hendak kubeli dan segera ku bayar. Setelahnya aku meninggalkan toko tersebut dan mulai berjalan untuk pulang. Di perjalanan, langkah ku terhenti. Indra pendengaranku menangkap sebuah pertengkaran hebat disalah satu rumah yang kuyakini adalah rumah yang terletak tepat di sebelahku.

Aku tak ingin mendengar, namun suara itu tertangkap oleh pendengaranku tanpa permisi. “Aku sudah tak memiliki tabungan untuk membayar cicilan rumah lagi!” jeritan seorang wanita yang terdengar jelas di telinga ku. “Lalu aku harus apa?! Aku harus bekerja dimana?! kamu kira mencari pekerjaan di masa seperti ini mudah?! Aku juga lelah!” teriak seorang pria yang tak kalah tinggi nadanya. Aku menutup daun telinga ku dan memutuskan untuk mempercepat langkah ku.

Namun tanpa disengaja, langkah ku kembali terhenti. Aku melihat seorang ibu dengan sang anak yang tengah beradu mulut di garasi rumahnya. “Aku harus pergi Ma! Teman-teman ku sudah menunggu sedari tadi!” bentaknya kepada sang ibu di depannya. “Jika kamu pergi sekarang, jangan harap pintu rumah terbuka untuk mu lagi!” jawab sang ibu dengan membalas tatapan anaknya dengan tatapan elang. Aku mulai sadar apa yang aku lakukan. Aku mulai berlari sekuat tenaga, dan beberapa kali menyeka air mata ku yang entah kapan menetesnya.

Lagi dan lagi kaki ku kembali terhenti. Aku melihat seorang pria yang duduk di ayunan halaman rumahnya dan temani oleh sang Ibu. “Ibu maaf, kakak belum bisa membantu ekonomi keluarga kita. Kakak tidak mendapat pekerjaan sama sekali,” ujar pria itu sambil terisak tangisnya. Sang Ibu langsung ikut duduk di sebelah putranya dan langsung memeluk putranya, “Sudah lah nak. Mungkin ini yang terbaik.” Ujar sang Ibu yang berusaha menenangkan putranya. Aku menghela nafas dan kemudian mempercepat langkah ku untuk sampai ke rumah.

-o0o-

Aku duduk di atas kasurku sambil menatap langit malam dengan semburat bintang yang terlihat sangat indah. Aku merenung sejenak. Apakah ini teguran Tuhan untuk penghuni semesta? Perlahan kepalaku mengingat semuanya. Manusia bekerja siang sampai malam tanpa memperdulikan keluarga dan orang-orang terdekanya. Manusia bercanda ria sepanjang waktu tanpa memperdulikan waktu dan Tuhan. Manusia berlomba-lomba saling menjatuhkan satu sama lain hanya untuk mengejar jabatan. Sekarang apa? Tuhan memberikan beberapa pelajaran untuk manusia.

Sekarang, waktu untuk bercanda ria pun tak ada, dunia juga mengalami kerugian ekonomi, sehingga menguranggi tenaga kerja, dan virus ini tak pernah memandang siapa orang tersebut, siapaun bisa tertular virus ini, dari yang kaya sampai yang miskin, dari yang kecil sampai yang dewasa, dan tak pernah memandang kasta, karena Tuhan maha adil. Sekarang, siapa yang bisa membantu kita? Tuhanlah jawabannya. Ibu ku selalu berkata, Tuhan akan selalu melindunginya, karena Tuhan sudah menyiapkan takdir seluruh makhuknya, apabila ibuku sudah waktunya meninggalkan semesta, maka itu semua adalah takdirnya, Ibuku sangat yakin, Tuhan pasti memberikan cahaya diantara kegelapan, ibuku saat ini tengah berperang dengan virus ini karena ibuku adalah seorang dokter. Tuhan maha adil, jangan pernah menyalahkan orang lain ataupun Tuhan, karena hal ini adalah pertanggung jawaban atas apa yang sudah kita lakukan selama hidup disemesta ini.

Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan adalah waspada dan selalu mengingat Tuhan. Jangan pernah melupakan kewajiban kita sebagai hamba Tuhan. Bagiku, saat ini semesta sedang menyeleksi makhuknya, kapanpun, siapapun, dan dimanapun, semesta bisa menghapus nama seseorang dari daftar makhuknya. Dan ingat satu hal, mungkin sekarang kita belum bisa menemukan hikmah yang ada, tapi percayalah dibalik penderitaan yang kita rasakan, suatu hari nanti ucapan rasa syukur akan keluar begitu saja dari bibir kita, tanpa kita sadari. Karena kita masih memiliki Tuhan yang akan menyayangi kita, bila kita juga menyayanginya.

Karya        : Anggita Firdatul Khasanah

Angkatan : 2021

Nim          : 210210301069